Gedung Romawi

Bangunan Romawi Kuno menyimpan sejarah yang menarik untuk diceritakan kembali dalam bentuk film, dokumenter, video game, hingga buku edukasi. Salah satunya adalah rahasia konstruksi bangunan zaman Romawi Kuno.

Bangunan pada zaman Romawi Kuno masih eksis hingga saat ini. Sebagian masih berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sedangkan sisanya dalam pengawasan cagar alam. 

Colosseum adalah bangunan dari Romawi Kuno yang dibangun pada tahun 70-72 masehi, dan digunakan untuk publik pada tahun 80 Masehi. Bangunan ini menjadi arena pertarungan Gladiator untuk menghibur warga Roma. 

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana bisa bangunan dari tahun 80 Masehi masih berdiri tegak di era modern. Bagaimana pemilihan bahan material konstruksi bangunan Romawi Kuno.

Jenis Material Konstruksi Bangunan Romawi Kuno

Bangunan Romawi Kuno

Bangunan Romawi Kuno menggunakan beton pozzolanik yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Beton ini berasal dari penyusunan pozzolana, campuran abu vulkanik dari Pozzuoli, Naples. dan kapur. Ketika bercampur dengan air, bahan ini bereaksi dan menghasilkan beton yang kuat.

Tim peneliti MIT dan Harvard University melakukan pengamatan pada sampel beton pozzolanik. Hasil pemeriksaan menunjukan kandungan mineral putih cerah berukuran milimeter yang disebut klasta kapur. 

Klasta kapur terlihat seperti gumpalan kapur yang memberikan beton kemampuan untuk menyembuhkan diri. Temuan lain dari tim peneliti adalah kapur cepat (quicklime) dalam proses pencampuran panas atau hot mixing. Penggunaan kapur menjelaskan rahasia dibalik ketahanan material bangunan romawi kuno.

Mula-mula, quicklime dicampurkan dengan pozzolana dan air pada suhu tinggi untuk menghasilkan gumpalan kapur untuk mempercepat waktu pengerasan beton, serta perbaikan diri beton. Jika retaknya beton muncul, retakan tersebut cenderung mengarah ke gumpalan kapur yang memiliki luas permukaan lebih besar dibandingkan partikel lain dalam beton.

Ketika air masuk ke dalam retakan, ia bereaksi dengan kapur dan menghasilkan larutan tinggi kalsium. Kemudian mengering dan mengeras menjadi kalsium karbonat, kemudian menyegel kembali retakan agar tidak semakin parah.

Tim peneliti melakukan pengujian perbandingan kekuatan beton Romawi dengan beton modern. Spesimen diberi retakan, kemudian dialirkan air. Hasil pengujian menunjukan dalam dua minggu retakan Beton zaman Romawi langsung self healing dan tidak menghilangkan retakan. Sementara beton tanpa kapur tohor tidak dapat self healing.

Kesimpulan

Bangunan Romawi Kuno

Bangunan Romawi Kuno tidak cuma meninggalkan kebudayaan tetapi konstruksi bangunan yang kokoh berdiri. Rahasia ketahanan terletak pada beton pozzolanik, merupakan campuran abu vulkanik dan kapur yang mampu self healing ketika terjadi retakan.

Colosseum adalah satu dari bangunan Romawi Kuno sampai sekarang. Dahulu dipakai untuk adu otot Gladiator, sekarang menjadi objek wisata di Italia.

Bangunan bersejarah ini juga muncul kembali dalam game Assassin’s Creed Brotherhood di zaman renaissance, era pengetahuan berkembang pesat. 

Sumber

  • Chandler, David. “Riddle Solved: Why Was Roman Concrete so Durable?” MIT News | Massachusetts Institute of Technology, 6 Jan. 2023, news.mit.edu/2023/roman-concrete-durability-lime-casts-0106.
  • “CORDIS | European Commission.” Europa.eu, 2023, cordis.europa.eu/article/id/442439-what-made-roman-concrete-so-durable.
  • Media, Konstruksi. “Rahasia Keawetan Beton Romawi: Inovasi Teknik Konstruksi Kuno.” KONSTRUKSIMEDIA.COM, 17 Feb. 2025, konstruksimedia.com/rahasia-keawetan-beton-romawi-inovasi-teknik-konstruksi-kuno/. Accessed 3 Jan. 2026.

By Ishak Okta Sagita

Mechanical Engineers seamlessly transition into the role of an SEO Content Writer to adeptly link technical products with a diverse audience.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *