Sistem fire hydrant selalu masuk dalam perencanaan kerja ketika hendak membangun gedung dengan risiko menengah dan tinggi. Hal ini disebabkan gedung tersebut digunakan untuk aktivitas manusia dengan intensitas tinggi.
Untuk membuat sistem fire hydrant gedung membutuhkan berbagai komponen dan langkah prosedural dalam pengerjaan. Jika tidak, maka pengelola gedung tidak dapat memasang sistem keamanan dari kebakaran gedung.
Sistem fire hydrant dalam gedung
Fire hydrant merupakan seperangkat komponen dalam sistem pemadam kebakaran untuk menyediakan pasokan air ketika terjadi kebakaran. Sumber air yang digunakan harus mudah diakses agar meningkatkan efektivitas petugas yang memadamkan api.
Sistem keamanan ini bertujuan memberi perlindungan properti, bangunan, dan penghuni yang ada di dalam gedung. Mengingat kebakaran gedung dapat terjadi kapan saja, maka sistem fire hydrant harus ada sebagai bentuk perlindungan.
Secara umum, kapasitas air yang dibutuhkan untuk sistem fire hydrant berkisar antara 40.000 – 200.000 liter. Jumlah tersebut masih bisa meningkat karena bergantung dengan ukuran gedung, tingkat rasio kebakaran, serta standar keamanan yang diterapkan oleh manajemen gedung.
Baca Juga : Cara Memilih Ukuran Nozzle Pemadam Kebakaran
Cara kerja sistem fire hydrant dalam gedung
- Sistem hydrant dimulai dari kondisi air memiliki tekanan tinggi.
- Kemudian, valve hydrant terbuka akan menurunkan tekanan.
- Sembari valve terbuka, pompa jockey akan menjaga tekanan tetap stabil.
- Pada saat tekanan mulai turun secara signifikan, pompa utama mulai bekerja untuk mengalirkan air melalui hoze menuju titik api.
Siklus ini dibuat agar respons terjadi secara otomatis dan cepat.
Komponen sistem fire hydrant dalam gedung
Sistem fire hydrant memiliki berbagai komponen untuk membantu menjalankan fungsi ketika terjadi kebakaran.
Reservoir
Reservoir, atau biasa disebut tandon air menjadi tempat untuk menampung air yang akan dialirkan ke hidran ketika terjadi kebakaran. Lokasinya berada di area basement maupun luar gedung yang dekat dengan pompa hydrant.
Kapasitas reservoir dapat ditentukan dari besarnya debit pompa terhadap waktu. Umumnya reservoir didesain agar dapat memadamkan api selama 30 sampai 60 menit, dengan standar debit air 400-500 GPM.
Tetapi pada prakteknya, kapasitas tandon air juga dipengaruhi oleh luas dan jumlah lantai bangungan serta sumber air yang tersedia.
Pompa hydrant
Pompa berfungsi untuk menghisap air dari tandon kemudian didistribusikan dengan tekanan tinggi ke saluran perpipaan hydrant gedung melalui pipa hisap. Aliran air nantinya akan dialirkan sampai ke komponen output.
Pompa hydrant untuk gedung terbagi dalam tiga jenis yaitu pompa jockey, pompa elektrik, dan pompa diesel. Tiga jenis pompa ini selalu ada di dalam gedung.
Pompa jockey berfungsi sebagai menjaga dan mengendalikan tekanan statis di jaringan hydrant agar tidak terjadi kebocoran. Pompa ini bekerja secara otomatis apabila salah satu katup output terbuka, maka katup lainnya akan otomatis menutup.
Pompa elektrik adalah pompa utama yang akan bekerja ketika pompa jockey sudah melebihi kapasitas maksimal. Pompa ini akan menyala secara otomatis ketika mencapai kondisi tertentu.
Pompa diesel menjadi pompa yang dapat dipakai ketika terjadi pemadaman listrik. Digunakan ketika kondisi darurat, serta secara dapat difungsikan secara otomatis ketika sudah mencapai kondisi tertentu.
Panel kontrol
Panel kontrol menjadi komponen penting lainnya untuk mengatur kerja pompa hydrant. Semua pompa dapat bekerja apabila sudah dilakukan pengaturan melalui panel, mekanismenya dilakukan secara manual atau otomatis melalui sistem kendali.
Gedung memiliki sistem kendali pompa agar suplai air tetap terjaga ketika mengalami kondisi tekanan overload ataupun kehilangan sumber energi karena pemadaman listrik.
Sistem perpipaan
Sistem perpipaan pada konteks ini dipakai untuk mendistribusikan air ke titik output seperti pillar, valve, dan sprinkle. Pipa yang digunakan adalah baja tahan karat Seamless 40 (SCH 40) karena ideal untuk mengalirkan air bertekanan besar.
Pipa air hydrant dibuat terpisah dengan pipa air bersih karena masalah keamanan karena digunakan ketika kondisi kebakaran. Kemudian, secara mekanisme sistem perpipaan air bersih berbeda dengan sistem perpipaan air hydrant.
Hydrant pillar
Hydrant pillar menjadi tempat agar air tekanan dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran. Fungsinya sebagai jalan keluar air dari sistem hydrant. Lokasinya bisa berakar di luar gedung
Di dekat hydrant pillar harus tersedia hydrant box untuk menyimpan selang pemadam kebakaran agar dapat langsung digunakan dan dipasang secepatnya.
Baca Juga : Apa Itu Nozzle Pemadam Kebakaran dan Fungsinya dalam Sistem Fire Hydrant
Regulasi sistem hydrant gedung
Sistem hydrant memakai dua acuan yang digunakan yaitu National Fire Protection Association (NFPA) dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kedua acuan menjadi rujukan untuk membuat sistem keamanan gedung dari kebakaran.
NFPA
NFPA adalah organisasi yang menetapkan standar keselamatan kebakaran. Beberapa standar yang dipakai untuk instalasi sistem hydrant dalam gedung adalah
- NFPA 14: Mengatur instalasi sistem standpipe dan selang (hose system), termasuk dimensi, kapasitas tekanan, dan penempatan.
- NFPA 20: Standar khusus untuk instalasi pompa kebakaran sentrifugal, termasuk performa pompa dan kontrol otomatisnya.
- NFPA 10: Mengatur alat pemadam api portable sebagai pelengkap sistem hydrant.
- NFPA 13: Standar untuk sistem sprinkler otomatis, yang sering dikombinasikan dengan sistem hydrant.
SNI
SNI merujuk pada standarisasi keselamatan yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional. Dalam kasus sistem hydrant, berikut adalah regulasi yang digunakan.
- SNI 03-1735-2000: Menjelaskan tata cara perencanaan akses gedung dan lingkungan untuk keperluan pemadam kebakaran. Salah satunya, ketersediaan air minimal 2400 liter/menit dengan tekanan 3,5 bar selama 45 menit.
- SNI 03-1745-2000: Mengatur teknis instalasi sistem pipa tegak (standpipe) dan selang, termasuk posisi penempatan, tekanan kerja, dan pengujian sistem.
- SNI 03-3989-2000: Standar instalasi sprinkler otomatis untuk perlindungan tambahan terhadap bahaya kebakaran.
Kesimpulan
Sistem fire hydrant merupakan infrastruktur keselamatan yang mutlak diperlukan dalam perencanaan gedung berisiko menengah hingga tinggi. Keandalan sistem perlindungan ini tidak hanya bergantung pada penyediaan pasokan air yang masif, melainkan pada integrasi otomatisasi yang cepat dan sistematis dari seluruh komponen ketika terjadi penurunan tekanan.
Efektivitas pemadaman api sangat ditentukan oleh sinergi perangkat teknis, mulai dari reservoir, sinkronisasi kinerja tiga jenis pompa (jockey, elektrik, dan diesel) yang diatur oleh panel kontrol, hingga ketahanan distribusi air bertekanan tinggi melalui perpipaan baja Seamless 40 (SCH 40) menuju hydrant pillar.
Selain spesifikasi material, keberhasilan sebuah sistem proteksi kebakaran gedung diukur dari kepatuhannya terhadap legalitas keselamatan. Dengan berpedoman pada standar internasional NFPA dan pedoman nasional SNI, instalasi fire hydrant akan terjamin secara mekanis maupun hukum, sehingga mampu memberikan perlindungan maksimal bagi nyawa penghuni dan aset bangunan dari ancaman kebakaran.
